Do it
on Jumat, 17 Juli 2009
Label:
penguat jiwa
/
Comments: (0)
Aku terkaget di kala kita hanya menggantungkan roda kehidupan pada orang lain. Kita hanya terdiam maka iya kita hanya bisa berkata tentang kehampaan tanpa mendapat apapun. Di lain pihak kita melihat orang yang meminum air keringatnya sendiri dan menggadaikan rasa lelah dalam tubuhnya untuk mencapai satu titik yang sesempurna mungkin bagai dirinya. Mau jadi mana kita ? Hanya penonton atau yang ingin ditonton keagungan hasrat kita untuk mendapatkanya. Jika kamu ingat betapa sengsara nya Nabi Muhammad untuk membuat dunia menerima agama Tuhanya, jika kamu ingat betapa harapan besar orang tua mu,bukan hanya ada di pundak mu namun juga ada di tiap nafas yang kamu helakan. Dan ini bukan saatnya mengingat namun harapan dan kerja diri sendiri masih bisa kamu lakukan,percaya ,bertindak dan saatnya engkau menyempurna
Kau adalah lampu pijar ku
Meski rembulan bukan diri mu
kau adalah lampu penerang tidur ku
dikala aku terlelap kau tetap terjaga
aku ingat saat ku berlomba dengan waktu
kau selalu menunggu setia saat bersama diri ku
kau tidak indah
tapi mengindahkan hidup ku
kau tak sempurna
tapi apalah arti malam ku tanpa hadir mu
ingin ku slalu ada di sisi mu
yang ku tahu kau akan hadir dan kehadiran mu ku tunggu
meski yang lain mendua dan berkelana
ku ingat engkau selalu memberi arti dalam hidup ku
ku mengerti kau tak selama nya buat ku
tapi yang lebih ku tahu hadir mu lebih dari rasa mengerti ku akan diri mu
engkau bagai lampu pijar ku
izin kan ku tuk menghabiskan sisa waktu ku dengan mu
kau adalah lampu penerang tidur ku
dikala aku terlelap kau tetap terjaga
aku ingat saat ku berlomba dengan waktu
kau selalu menunggu setia saat bersama diri ku
kau tidak indah
tapi mengindahkan hidup ku
kau tak sempurna
tapi apalah arti malam ku tanpa hadir mu
ingin ku slalu ada di sisi mu
yang ku tahu kau akan hadir dan kehadiran mu ku tunggu
meski yang lain mendua dan berkelana
ku ingat engkau selalu memberi arti dalam hidup ku
ku mengerti kau tak selama nya buat ku
tapi yang lebih ku tahu hadir mu lebih dari rasa mengerti ku akan diri mu
engkau bagai lampu pijar ku
izin kan ku tuk menghabiskan sisa waktu ku dengan mu
Ketika bibir terucap
Di kala senjata dipacu takkan lebih cepat dari ucapan
manakala hati menduga takkan ada arti jika makna terucap lewat prasangka
ingatkan bahnwa jika kau adalah aku
yang harus menyingkap satu kata
hati lah pengendali dan jadikan senjata pemicu ucapan terbaikmu
ingatkan diri mu akan masa lalu
dikala nyala api berkobar lewat bung tomo
dikala runtuhnya pujaan hati oleh pemuja
dikala ikhlasnya Pencipta oleh pendoanya
itu hanya satu satu nya yang ada
bukan masalah bisa atau terbiasa
cukup niat dan ucpan baik pun mengalir deras menghujan bagai selongsong peluru
manakala hati menduga takkan ada arti jika makna terucap lewat prasangka
ingatkan bahnwa jika kau adalah aku
yang harus menyingkap satu kata
hati lah pengendali dan jadikan senjata pemicu ucapan terbaikmu
ingatkan diri mu akan masa lalu
dikala nyala api berkobar lewat bung tomo
dikala runtuhnya pujaan hati oleh pemuja
dikala ikhlasnya Pencipta oleh pendoanya
itu hanya satu satu nya yang ada
bukan masalah bisa atau terbiasa
cukup niat dan ucpan baik pun mengalir deras menghujan bagai selongsong peluru
