RSS
Write some words about you and your blog here

Koordinasi dan Penentuan Parameter Setting Over Current Relay

Penghitungan parameter setting overcurrent relay harus ditentukan berdasarkan penggunaan relay tersebut pada daerah perlindungan yang akan diamankan oleh relay. berikut terdapat beberapa contoh kaedah koordinasi pengaman relay A. Pada Penghantar (transmisi) Pemilihan Nilai Setting OCR berdasarkan nilai kuat hantar arus (KHA) dari jenis penghantar yang digunakan dengan faktor kali 1.2 x KHA . Penentuan waktu berdasarkan berdasarkan Arus Hubung Singkat sesuai simulasi karena OCR merupakan proteksi yang bekerja berdasarkan arus hubung singkat bukan pembebanan. Sebagai pengaman pembebanan digunakan OLS (Over Load Sheading) yang bisa menggunakan setting definite time. Pada setting OCR Penghantar P3B S menggunakan waktu tunda 1 sekond pada arus gangguan tertinggi sesuai simulasi yang kemudian di kalkulasi dalam karakteristik invers. B. Pada Trafo Pemilihan Nilai Setting arus pada trafo harus memperhatikan nilai arus nominal dari trafo. Pada setting OCR Penghantar P3B S menggunakan waktu tunda 1.2 sekon pada pada back up sisi 150 kV, pada sisi 20 kV menggunakan waktu tunda 0.8 sekon dan pada penyulang dengan waktu tunda 0.3 sekon sesuai arus gangguan tertinggi sesuai simulasi yang kemudian di kalkulasi dalam karakteristik invers. Pemakaianan High setting pada sisi 150 kV dan 20 kV incoming trafo tidak digunakan. Penggunaan setting High setting pada penyulang harus memperhatikan dengan koordinasi pada gardu hubung atau recloser pada penyulang

Saturation Point Current Transformer for Metering and Protection

Current Tranformer memiliki dua tipe core yaitu core metering dan protection. Titik jenuh dari kedua core transformator ini berbeda dikarenakan fungsinya berbeda. Fungsi metering diharapkan CT mempunyai akurasi yang tinggi namun memiliki nilai titik jenuh yang rendah sehingga pada arus tertentu yang melebihi besaran arus pada titik jenuh maka CT dengan core metering akan memiliki kejenuhan yang menyebabkan akurasi pembacaan sangat buruk. Pada CT dengan core protection mempunyai titik jenuh yang tinggi sehingga diharapkan pada arus gangguan yang besar maka CT maka akan tetap memiliki akurasi pembacaan yang baik.

PENINGKATAN PERFORMANCE TRANSMISI SUTT 150 KV DENGAN METODE ANALISA TRAVELLING WAVE SYSTEM PADA GANGGUAN PETIR (PART 1)

Transmisi SUTT 150 KV memiliki peranan yang sangat penting dalam kontinuitas penyaluran tenaga listrik di Sistem Kaltim. Kondisi geografis dan daerah perbukitan pada jalur Transmisi SUTT 150 KV Sistem Kaltim akan berdampak pada tingkat intensitas petir yang tinggi. Sambaran petir pada Transmisi SUTT 150 KV mengakibatkan terjadi tegangan lebih yang mempengaruhi kestabilan Sistem Kelistrikan. SUTT 150 KV Karang Joang arah Harapan Baru merupakan jalur backbone yang menghubungkan subsistem Balikpapan dan sub Sistem Samarinda, sehingga SUTT 150 KV tersebut harus ditingkatkan kehandalannya karena terletak pada daerah intensitas petir yang tinggi. Dalam kasus ini, dilakukan pemetaan daerah petir dengan menggunakan metode TWS (Traveling Wave System) untuk menentukan titik lokasi terjadinya sambaran petir. Hal ini, akan menjadi dasar peningkatan performance ( perbaikan pentanahan, reposisi tanduk busur, perbaikan jumperan GSW ke Tower, reposisi penempatan TLSA, dll ). Perbaikan ini, diharapkan akan meminimalkan terjadinya kegagalan isolasi dan back flashover.