Benar kata sebagian orang jika kita ingin melihat ilmu, maka lihat lah orang yang tersenyum bahkan sedikit membuat hati berdetak kencang akibat pandangan yang sedikit tajam. Hidup bukanlah suatu keharusan yang "WAJIB MENERIMA APA ADA NYA" itu hanya rayuan manis sang setan agar pribadi kita yang sedikit menghitam tidak bisa memutih dan memilih untuk menghitamkan nya lagi. Beberapa kehidupan sudah menjadi keras ketika kebaikan di anggap menjadi kesulitan, karena memang mengajak ke "kehitaman" sangat lah mudah, misal saja siapa orang tidak mau bergelimang harta dengan cepat. Dan setan membujuk nya mulai dari uang recehan, sandal di masjid bahkan uang yang tersimpan di brangkas bank nasional atau uang melalui kurir kurir yang hanya tahu bahwa yang dikirim hanyalah sebendel berkas padahal itu adalah dolar.
"TERIMALAH AKU APA ADA NYA"
Banyak pemuda pemudi yang suka makan spagethi, atau hati yang sering mengucapkan kata "romantis" bak romeo dan juliawati tersebut. Jika ada lawan jenis yang dengan "GAGAH" mengucapkan "KU TERIMA KAU APA ADA NYA" sang pujaan hati langsung klepek klepek bagai ikan yang terkena kail dari MANCING MANIA, karena sebenar nya kata kata tersebut adalah awal dari penghitaman hati.
Bukan kan kita sering melakukan kesalahan, bukankah egoisme ini terkadang hanya mengantar kita ke gerbang penderitaan, bukankah indah amarah akan meredakan kebaikan yang ingin berkobar. Coba jika saya menerima semua keburukan tersebut dan terus melangkah bersama nya tanpa ada niat "mencoba" untuk memberi kebaikan keindahan sesungguh nya:-)
"TAK AKAN INDAH TANPA ADA PERBAIKAN DI TIAP NIAT YANG BAIK"
tidak perlu langsung harus memaksakan orang lain harus berubah, karena mengapa tidak kita dahulu yang memberi contoh indah nya "kebaikan" jika belum terketuk pintu hati nya berilah sedikit belaian pembawa keindahan di pribadi pribadi yang sesungguh nya FITRI tersebut. Karena tak akan menjadi sesuatu yang baik jika tidak ada langkah yang memulai kebaikan tersebut
"JANGAN" terima aku apa ada nya"JANGAN" terima aku apa ada nya
on Kamis, 04 Agustus 2011
Label:
penguat jiwa
/
Comments: (0)
SHALAT kunci DEMOKRASI
on Rabu, 03 Agustus 2011
Label:
penguat jiwa
/
Comments: (0)
Banyak politisi berbicara tentang demokrasi, dan beberapa dari mereka memang benar namun disisi lain ada suatu langkah yang mulai "menghitam" akibat suatu kepentingan yang seharusnya disisihkan oleh kesucian menuju ke cita cita yang memuliakan banyak pribadi.
Sesungguh nya Allah telah sedikit banyak menunjukan cara berdemokrasi yang "maha suci" sesuai dengan perintah perintah Nya yang memuliakan bagi pribadi yang mencoba untuk "patuh".
Coba ingatkah kita saat menjalankan ibadah yang disebut sebagai tiang agama yaitu Shalat. Ibadah ini secara maknawi sesungguh nya juga disebut tiang dari segala macam hal, karena agama adalah puncak dari segala macam hal yang kita temui dalam hidup ini.
Mari sejenak kita sucikan diri untuk menerima "pembaikan"
Shalat adalah langkah demokrasi yang paling "Indah".
Saat kita akan memulai shalat pastilah kita berwudhu (bersuci) yang mempunyai makna mensucikan niat dalam tahap selanjutnya. Jika kita ingin menjadi Politkus bukan polyTIKUS maka luruskan lah terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan kita, karena suatu amanah bukan lah untuk memperkaya harta namun mempermiskin koruptor yang lucu lucu di layar televisi.
Selanjut nya saat akan mengawali shalat, sang imam selalu mengingatkan bahwa luruskan shaf dan rapatkan. "Subhanallah" para jamaah pun klepek klepek dengan perintah tersebut dan menjalankan nya. Hal ini mengajarkan bahwa sebagai pemimpin berikan lah perintah yang MEMBAIKAN maka rakyat akan menjalankan nya karena itu akan bermanfaat bagi diri nya dan orang banyak.
Selanjut nya aspek dimana jamaah selalu mengikuti "SANG PEMIMPIN", tak ada jamaah yang mendahului kecuali seorang anak kecil yang masi lucu tingkah nya dengan peci yang dipakai miring miring. Hal ini melambangkan jika orang yang di atas memberi TAULADAN kebaikan maka tak ada seorang pun yang akan menentangnya.
SHALAT pun mengajarkan kita wajib MEMBENARKAN bukan untuk MENCELA, saat sang imam bertindak "kurang benar" dalam ucapan atau tindakan maka jamaah di belakan nya wajib mengingatkan dan TIDAK BERLEBIHAN . BUKAN seperti diskusi TELEVISI yang mengejek ejek tanpa bukti, padahal dari zaman reformasi orang orang yang sering berbicara di televisi itu sering mengumandangkan nyanyian yang lebih sering didengar daripada adzan yang hanya 5 menit. Namun apa mereka bisa mengubah. Shalat mengajarkan jika ada orang yang benar maka akui lah, seperti bacaan "AMIIN" pada akhir al fathehah. Karena tidak mungkin seseorang tidak mempunyai kebaikan
selanjutnya shalat mengajarkan agar selalu memberi salam dan menengok ke kanan dan kiri saat mengakhiri shalat nya. Hal ini mengajarkan saat kita selesai menjalankan suatu amanah hendaknya "legowo" untuk mengakhir
dan yang terakhir dalam pembahasan kali ini yaitu, shalat selalu mengajarkan KITA untuk memilih pemimpin yang "SEMPURNA", beliau harus fasih bacaan Al quran, banyak hafalan, dan jika semua orang mampu maka dahulukan yang "berumur" namun jika yang "berumur" kurang fasih maka yang muda yang berkualitas lah yang di usahakan memimpin. Bukan kah negara kita memiliki banyak orang berkualitas , bukan nya orang yang sudah berumur yang kemungkinan sudah "menghitam" dan hanya menjadi boneka cantik saat "membaca" pidato kenegaraan yang ditulis oleh sekertaris nya. Lihat bung Karno "muda" beliau sangat brilian dengan memerdekakan indonesi, namun saat beliau berumur dan mulai menghitam memang sudah layak jika di ganti dengan yang lebih muda, namun harus lebih Suci dengan air wudhu yang di ambil nya sebelum menjalankan amanah
shalat adalah ajang demokrasi terbesar di dunia yang telah dilakukan seluruh umat islam :-) baca lah dengan hati maka hidup ini akan mengindahkan kita
Sesungguh nya Allah telah sedikit banyak menunjukan cara berdemokrasi yang "maha suci" sesuai dengan perintah perintah Nya yang memuliakan bagi pribadi yang mencoba untuk "patuh".
Coba ingatkah kita saat menjalankan ibadah yang disebut sebagai tiang agama yaitu Shalat. Ibadah ini secara maknawi sesungguh nya juga disebut tiang dari segala macam hal, karena agama adalah puncak dari segala macam hal yang kita temui dalam hidup ini.
Mari sejenak kita sucikan diri untuk menerima "pembaikan"
Shalat adalah langkah demokrasi yang paling "Indah".
Saat kita akan memulai shalat pastilah kita berwudhu (bersuci) yang mempunyai makna mensucikan niat dalam tahap selanjutnya. Jika kita ingin menjadi Politkus bukan polyTIKUS maka luruskan lah terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan kita, karena suatu amanah bukan lah untuk memperkaya harta namun mempermiskin koruptor yang lucu lucu di layar televisi.
Selanjut nya saat akan mengawali shalat, sang imam selalu mengingatkan bahwa luruskan shaf dan rapatkan. "Subhanallah" para jamaah pun klepek klepek dengan perintah tersebut dan menjalankan nya. Hal ini mengajarkan bahwa sebagai pemimpin berikan lah perintah yang MEMBAIKAN maka rakyat akan menjalankan nya karena itu akan bermanfaat bagi diri nya dan orang banyak.
Selanjut nya aspek dimana jamaah selalu mengikuti "SANG PEMIMPIN", tak ada jamaah yang mendahului kecuali seorang anak kecil yang masi lucu tingkah nya dengan peci yang dipakai miring miring. Hal ini melambangkan jika orang yang di atas memberi TAULADAN kebaikan maka tak ada seorang pun yang akan menentangnya.
SHALAT pun mengajarkan kita wajib MEMBENARKAN bukan untuk MENCELA, saat sang imam bertindak "kurang benar" dalam ucapan atau tindakan maka jamaah di belakan nya wajib mengingatkan dan TIDAK BERLEBIHAN . BUKAN seperti diskusi TELEVISI yang mengejek ejek tanpa bukti, padahal dari zaman reformasi orang orang yang sering berbicara di televisi itu sering mengumandangkan nyanyian yang lebih sering didengar daripada adzan yang hanya 5 menit. Namun apa mereka bisa mengubah. Shalat mengajarkan jika ada orang yang benar maka akui lah, seperti bacaan "AMIIN" pada akhir al fathehah. Karena tidak mungkin seseorang tidak mempunyai kebaikan
selanjutnya shalat mengajarkan agar selalu memberi salam dan menengok ke kanan dan kiri saat mengakhiri shalat nya. Hal ini mengajarkan saat kita selesai menjalankan suatu amanah hendaknya "legowo" untuk mengakhir
dan yang terakhir dalam pembahasan kali ini yaitu, shalat selalu mengajarkan KITA untuk memilih pemimpin yang "SEMPURNA", beliau harus fasih bacaan Al quran, banyak hafalan, dan jika semua orang mampu maka dahulukan yang "berumur" namun jika yang "berumur" kurang fasih maka yang muda yang berkualitas lah yang di usahakan memimpin. Bukan kah negara kita memiliki banyak orang berkualitas , bukan nya orang yang sudah berumur yang kemungkinan sudah "menghitam" dan hanya menjadi boneka cantik saat "membaca" pidato kenegaraan yang ditulis oleh sekertaris nya. Lihat bung Karno "muda" beliau sangat brilian dengan memerdekakan indonesi, namun saat beliau berumur dan mulai menghitam memang sudah layak jika di ganti dengan yang lebih muda, namun harus lebih Suci dengan air wudhu yang di ambil nya sebelum menjalankan amanah
shalat adalah ajang demokrasi terbesar di dunia yang telah dilakukan seluruh umat islam :-) baca lah dengan hati maka hidup ini akan mengindahkan kita
