Tampilkan postingan dengan label PROTEKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROTEKSI. Tampilkan semua postingan
Restricted Earth Fault (REF) Operation In System
Terjadi gangguan yang menyebabkan PMT 150 dan 20 kV Trafo 1 GI Xxx lepas dengan indikasi REF 1 dan REF 2. Bersamaan dengan Lepasnya PMT 150 dan 20 kV Trafo 1 GI Xxx terdapat indikasi lain yaitu Relay pada kopler Kanaan pick up fasa RST.
Hasil temuan dilapangan terdapat keretakan ada temeperatur yang naik pada CT di kubikel Kopler Kanaan. Setelah dilakukan pengujian individual CT diketahui bahwa ratio CT dalam kondisi tidak baik. Sehingga harus dilakukan penggantian CT di kubikel kopler Kanaan.
Hasil rekaman event logger Differential Trafo yang menjadi satu dengan REF didapatkan bahwa relay yang bekerja adalah Fungsi REF 1 dan 2.
Gambar 1 Event Logger Relay
Mengingat prinsip kerja REF 1 dan REF 1 yaitu sebatas pada CT 150 kV dan CT 20 kV maka kemungkinan terjadi gangguan dekat dengan trafo. Mengingat letak CT Kopler yang masih pada satu bus 20 kV dengan trafo, sehingga masih dimungkinkan ketika terjadi kerusakan pada CT di Outgoing maupun Kopler dapat menyebabkan relay REF bekerja dengan asumsi bahwa 3Io yang mengalir sangat kecil yang menyebabkan relay GFR Incoming 20 kV pick up namun belum bekerja. Besaran 3Io yang mengalir dapat dilihat pada disturbance Record Relay Differential Trafo Tersebut seperti gambar berikut.
Gambar 2 Disturbance Record Relay Differential dan REF
Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa kenaikan nilai arus 3 Io pada sisi 20 kV kecil yang dapat menyebabkan relay Back Up GFR pick up namun belum Trip. Dengan asumsi bahwa gangguan pada CT Kopler yang hampir mewakili daerah kerja REF yang sangat dekat dengan Trafo maka relay Ref pick up dan bekerja karena melebihi dari nilai setting yaitu 0.3 x In. Dan arus yang mengalir melalui CT REF sangat besar maka Relay menganggap terjadi gangguan pada daerah terbatas Trafo walaupun asumsi gangguan pada CT kubikel yang notabene terletak sangat dekat dengan sisi sekunder Trafo daya.
Dengan demikian mengingat daerah kerja REF yang sangat terbatas namun masih dapat terjadi anomaly pada CT yang terpasang pada Kubikel yang menggunakan busbar 20 kV sisi sekunder Trafo daya, maka pengecekan pada CT masing – masing kubikel sangat diperlukan. Pengeckan anomaly dapat berupa penggunaan Thermovision agar dapat diketahui suhu dari CT yang terpasang.
TINDAK LANJUT
1. Pengecekan Rutin Thermovision pada CT di kubikel
2. Apabila pada kubikel belum terdapat kaca intip untuk thermovision maka dapat ditambahkan kaca intip tersebut agar dapat memantau kondisi CT pada kubikel mengingat CT adalah komponen penting pada pengaman system.
Koordinasi dan Penentuan Parameter Setting Over Current Relay
Penghitungan parameter setting overcurrent relay harus ditentukan berdasarkan penggunaan relay tersebut pada daerah perlindungan yang akan diamankan oleh relay. berikut terdapat beberapa contoh kaedah koordinasi pengaman relay
A. Pada Penghantar (transmisi)
Pemilihan Nilai Setting OCR berdasarkan nilai kuat hantar arus (KHA) dari jenis penghantar yang digunakan dengan faktor kali 1.2 x KHA . Penentuan waktu berdasarkan berdasarkan Arus Hubung Singkat sesuai simulasi karena OCR merupakan proteksi yang bekerja berdasarkan arus hubung singkat bukan pembebanan. Sebagai pengaman pembebanan digunakan OLS (Over Load Sheading) yang bisa menggunakan setting definite time. Pada setting OCR Penghantar P3B S menggunakan waktu tunda 1 sekond pada arus gangguan tertinggi sesuai simulasi yang kemudian di kalkulasi dalam karakteristik invers.
B. Pada Trafo
Pemilihan Nilai Setting arus pada trafo harus memperhatikan nilai arus nominal dari trafo. Pada setting OCR Penghantar P3B S menggunakan waktu tunda 1.2 sekon pada pada back up sisi 150 kV, pada sisi 20 kV menggunakan waktu tunda 0.8 sekon dan pada penyulang dengan waktu tunda 0.3 sekon sesuai arus gangguan tertinggi sesuai simulasi yang kemudian di kalkulasi dalam karakteristik invers.
Pemakaianan High setting pada sisi 150 kV dan 20 kV incoming trafo tidak digunakan. Penggunaan setting High setting pada penyulang harus memperhatikan dengan koordinasi pada gardu hubung atau recloser pada penyulang
Saturation Point Current Transformer for Metering and Protection
Current Tranformer memiliki dua tipe core yaitu core metering dan protection. Titik jenuh dari kedua core transformator ini berbeda dikarenakan fungsinya berbeda. Fungsi metering diharapkan CT mempunyai akurasi yang tinggi namun memiliki nilai titik jenuh yang rendah sehingga pada arus tertentu yang melebihi besaran arus pada titik jenuh maka CT dengan core metering akan memiliki kejenuhan yang menyebabkan akurasi pembacaan sangat buruk. Pada CT dengan core protection mempunyai titik jenuh yang tinggi sehingga diharapkan pada arus gangguan yang besar maka CT maka akan tetap memiliki akurasi pembacaan yang baik.
PENINGKATAN PERFORMANCE TRANSMISI SUTT 150 KV DENGAN METODE ANALISA TRAVELLING WAVE SYSTEM PADA GANGGUAN PETIR (PART 1)
Transmisi SUTT 150 KV memiliki peranan yang sangat penting dalam kontinuitas penyaluran tenaga listrik di Sistem Kaltim. Kondisi geografis dan daerah perbukitan pada jalur Transmisi SUTT 150 KV Sistem Kaltim akan berdampak pada tingkat intensitas petir yang tinggi. Sambaran petir pada Transmisi SUTT 150 KV mengakibatkan terjadi tegangan lebih yang mempengaruhi kestabilan Sistem Kelistrikan.
SUTT 150 KV Karang Joang arah Harapan Baru merupakan jalur backbone yang menghubungkan subsistem Balikpapan dan sub Sistem Samarinda, sehingga SUTT 150 KV tersebut harus ditingkatkan kehandalannya karena terletak pada daerah intensitas petir yang tinggi. Dalam kasus ini, dilakukan pemetaan daerah petir dengan menggunakan metode TWS (Traveling Wave System) untuk menentukan titik lokasi terjadinya sambaran petir. Hal ini, akan menjadi dasar peningkatan performance ( perbaikan pentanahan, reposisi tanduk busur, perbaikan jumperan GSW ke Tower, reposisi penempatan TLSA, dll ). Perbaikan ini, diharapkan akan meminimalkan terjadinya kegagalan isolasi dan back flashover.
HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA PENGATURAN SETTING OVER CURRENT RELAY DAN GROUND FAULT RELAY PADA PENYULANG
1. Terdapat dua jenis karakteristik yang biasa digunakan di PLN yaitu DEFINITE TIME dan INVERSE
a) DEFINITE TIME pengertian awam nya kita menentukan Arus Setting pada sebuah relay dan waktu tunda nya. Sehingga ketika arus gangguan yang sudah melewati arus setting maka relay akan mengirim perintah TRIP pada CB sesuai dengan waktu tunda yang ditentukan
b) Invers secara umum prinsip kerja nya semakin besar arus gangguan semakin cepat perintah TRIP dari relay ke CB
c) Instan setelah menentukan karakteristik a atau b yang dipilih terdapat fungsi selanjutnya yaitu instan. Fungsi ini selalu dipadukan untuk merespon arus gangguan yang besar biasanya 3,4 atau 5 x In. Fungsi ini berguna untuk melindungi peralatan akibat arus gangguan yang besar. Time setting yang biasa digunakan yaitu 0 second
2. Terdapat dua macam fungsi relay yaitu OCR dan GFR. Yang perlu di perhatikan yaitu arus setting (I set) kedua fungsi ini cukup berbeda. OCR mempunya arus setting pada umumnya 0.8 x In, 1x In atau 1.1x In. Sedangkan untuk GFR pada umumnya 0.1 x In, 0.2x In atau 0.3x In. perbedaan kedua arus setting ini salah satu penyebabnya adalah gangguan Fasa – Ground lebih kecil daripada fasa – fasa.
3. Penentuan TIME SETTING pada penyulang harus di beri cascade atau level. Level degradasi pada kubikel 20 kV yaitu 0.3 sedangkan pada incoming biasa digunakan 0.7 pada bus yang tidak terdapat kopler pembangkit. Jika terdapat kopler pembangkit yang berjarak dekat dengan GI dan dari pembangkit menuju ke incoming 20 kV menggunakan kabel bawah tanah time setting pada umumnya disamakan dengan T set dari incoming sebesar 0.7 hal ini disebabkan sangat kecil kemungkinan terjadi gangguan sepanjang jaringan dari pembangkit ke kubikel 20 kV. Namun jika jarak pembangkit dengan kubikel jauh dan menggunakann kabel telanjang udara pada umumnya diberi degradasi waktu incoming menjadi 1 second dan untuk kopler pembangkit sebesar 0.7 second.
4. Pengaturan yang digunakan jika menggunakan DEFINITE TIME antara lain harus memperhatikan beberapa hal yaitu. Tentukan Arus setting yang digunakan yang di sesuaikan dengan beban puncak setiap penyulang dan incoming. Tentukan Time setting sesuai dengan degradasi level pengamanan yang ditentukan. Jangan lupa untuk mengatur fungsi OCR dan GFR.
5. Pengaturan yang digunakan jika menggunakan INVERSE yaitu TMS ( Time multiply Setting). TMS layak nya kurva yang digunakan untuk menentukan respon waktu kerja relay terhadap arus gangguan. Terdapat rumus dasar TMS standar ivers yang digunakan (nanti aku lampirkan contoh dasar). Untuki mendapat TMS harus diketahui besarnya ARUS HUBUNG SINGKAT TERBESAR PADA FEEDER atau biasa nya PADA SATU TRAFO sisi sekunder untuk setting TMS penyulang. Selain itu seperti DEFINITE TIME tentukan Arus setting dan Time setting sesuai level degradasi dan harus diperhatikan ratio CT yang digunakan. Semua parameter tersebut dimasukan ke rumus sehingga didapatkan TMS yang akan digunakan. PERHATIAN UNTUK RELATY TERTENTU (SPERTI SEPAM) TERDAPAT FAKTOR PENGALI TMS, sehingga perlu di baca manual book relay yang digunakan.
Sementara ini ilmu yang bisa dibagi dari kami, semua yang ditulis berdasarkan literatur dan pemahaman pribadi sehingga saran dan perbaikan sangat kami harapkan.


