Jika hidup adalah air
maka dia akan mengalir
tapi hanya terombang ambing
oleh derasnya arus
jika hidup adalah angin
dia akan bebas
tanpa arah tanpa tujuan
jika hidup adalah kaca
dia akan berkata apa adanya
tapi tak bisa melihat sisi belakang orang dengan baik
jika hidup adalah sinar
dia akan memberi pencerahan
namun jika hilang akan membutakan
jika hidup adalah tanah
dia akan rela menjadi tumpuan hidup tiap orang
tapi dia hanya diam tak ada usaha
jika hidup adalah goyangan daun
dia memang dinamis
tapi dia hanya menjadi pengikut tanpa ada alasan menjadi yg diikuti
jika hidup adalah aku
ini memang sulit
tapi dari kesulitan itu dia akan berusaha
berusaha lebih baik tiap waktunya
UN = Ujian Nasional = Ujian Nakal ? ? ?
on Senin, 27 April 2009
/
Comments: (1)
Kalau bicara tentang hal ini,memang sangat rumit. Ada yg setuju ada yg tidak setuju ada pula yg setuju tapi menginginkan ada perubahan didalamnya. UN atau UAN atau apalah itu,adalah suatu jenis ujian yang dilakukan tiap tahun dan trend yg sedang berkembang adalah menaikan batas nilai kelulusan. Pada awalnya 4,5 tiap mata pelajaran,dan tiap tahun naik 0,25.Bayangkan saja kalau 10 tahun lagi dan tiap tahun naik 0,25 mungkin batas nilai kelulusan adalah nilai 10. Ea ini memang hanya anekdot yg tidak mungkin,tapi apalah arti sebuah nilai yang hanya ditentukan oleh 1 jenis ujian. Bayangkan dari 3 tahun siswa telah belajar nasibnya hanya akan ditentukan dalam waktu 120 menit atau berapa itu lah yang jelas sangat singkat. Banyak pengamat pendidikan yang dengan lugas menolak jenis ujian ini. Katanya tidak menghargai kerja keras siswa. Tapi ada lagi lain pendapat,misal saja ada yg menyetujui UN tapi dengan syarat nilai UN adalah hanya untuk menentukan tingkat mutu dari masing-masing siswa dan sekolah bukan untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa. Coba saya berdiri dipihak ini saya merasa pendapat pengamat ini ada benarnya juga. Jadi adil antara niat pemerintah yang 'beralih- alih' meningkatkan mutu pendidikan dan perjuangan siswa selama 3 tahun. Dan kalau pemerintah ingin mengetahui maju atau tidaknya pendidikan juga tidak dibenarkan kan kalau mengorbankan para siswa. Coba sekarang saya beralih ke sisi lain yaitu pendapat pemerintah. Pemerintah mencanangkan program UN memang baik. Karena hanya di Region ASEAN saja Indonesia duduk di kursi bawah. Menurut pemerintah dengan di naikannya nilai batas kelulusan,akan menjadi bukti bahwa Indonesia bukan negara 'babu' yg hanya menjadi buruh kasar tanpa pendidikan. Dari sudut pandang pemerintah yg mendukung UN saya beralih ke sisi yang menolak dengan keras UN. Memang tidak di sangka misal saja si "A" adalah juara kelas dan telah masuk Universitas terkemuka lewat PMDK. Tapi nasib berkata lain si "A" pada hari H UN sedang dalam bad mood dan kurang enak badan,hal ini menyebabkan si "A" tidak beruntung dan tidak lulus. Bagai mana pak bambang Sudibyo? ?Pasti para guru menganjurkan untuk Ujian kesetaraan,tapi apa sekarang Universitas mau menerima. Mgkn ada yg mau tp trend yang berkembang univesitas negri trkemuka tidak mau menerima ijazah kesetaraan. Nah hal ini menjadi alibi dari sisi yang dengan tegas menolak UN. Ea memang sulit sekarang adalah terserah kalian memilih berdiri di pihak mana. Saya hanya memberi gambaran kasar maaf jika ada kekurangan
Warnai hidup
Hari adalah warna
hijau untuk kehidupan
merah untuk kemeriahan
putih untuk kesucian
biru untuk ketenangan
hitam untuk keberanian
kuning untuk keceriaan
tapi ada satu lagi
warna itu bukan yang ada disembarang tempat
ku tak pernah melihatnya sebelumnya
saat itu ku lihat di mata mu
warna yang menggambarkan segala warna yang pernah ku sebut
hijau untuk kehidupan
merah untuk kemeriahan
putih untuk kesucian
biru untuk ketenangan
hitam untuk keberanian
kuning untuk keceriaan
tapi ada satu lagi
warna itu bukan yang ada disembarang tempat
ku tak pernah melihatnya sebelumnya
saat itu ku lihat di mata mu
warna yang menggambarkan segala warna yang pernah ku sebut
